Bagaimana cara hemat listrik? Upaya hemat energi dimulai dari cara memilih dan menggunakan alat elektronik. Dapat dikatakan bahwa hamper semua rumah menggunakan peralatan listrik. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan alat-alat tersebut.
- Kenali instalasi listrik di rumah. Apakah instalasinya sudah sesuai dengan standar yang dianjurkan?
- Sesuaikan pemakaian daya dengan kebutuhan. Semakin kecil daya yang dipakai, semakin rendah tagihan listriknya.
Penggunaan alat-alat elektronik di rumah pun perlu diperhatikan agar listrik yang digunakan sesuai pemakaian.
Untuk penggunaan lampu, misalnya, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Pilihlah lampu hemat energi (TL dan CFL)
2. Padamkan lampu jika tidak digunakan
3. Gunakan sensor otomatis untuk mematikan atau menghidupkan lampu
4. Kurangi pemakaian lampu antara pukul 17.00 dan 22.00
5. Pilih warna terang untuk dinding rumah Anda agar cahaya lebih optimal
Sumber : Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo, “ Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global”, PenebarPlus,
Selasa, 2008 Februari 26
Antisipasi Dampak Pemanasan Global (2)
Mengenal Hujan Asam

Apabila dilakukan pembakaran batu bara dan minyak, akan kelaur emisi SO, partikel dan nitrogen oksida, SO2 dan NO. Jika gas-gas tersebut bereaksi di udara akan membentuk polutan sekunder seperti NO2, asam nitrat, butiran asam sulfat dan garam nitrat serta garam sulfat. Polutan yang katuh ke bumi akan menjadi hujan asam, embun asam dan partikel asam.
Secara alami hujan memiliki derajat keasaman pH sekitar 5,6. Apabila hujan dengan pH kurang dari 5,6, terutama pH di bawah 5,1 maka akan berdampak negative dan menyebabkan berbagai kerusakan di antaranya sebagai berikut :
- Merusak properti, monumen/patung, bahan logam seperti mobil atau komponen bangunan mobil
- Dapat mematikan berbagai jenis tanaman pangan dam sayuran.
- Menghambat pertumbuhan tanaman pangan dan sayuran.
- Menyebabkan penyakit pernafasan.
- Pada ibu hamil akan menyebabkan bayi lahir prematur atau meninggal.
Sumber : Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo, “ Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global?”, PenebarPlus, Jakarta, 2007
Minggu, 2008 Februari 24
Dampak Pemanasan Global pada Cuaca

Apabila daerah di bagian Utara bumi (Kutub Utara) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di bumi. Dengan kondisi seperti ini maka akan berakibat di antaranya :
- Gunung-gunung es akan mencair.
- Daratan akan mengecil.
- Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan sebelah utara.
- Daerah-daerah yang sebelumnya, mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi.
- Di daerah subtopis, bagian pegunungan yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta salju akan lebih cepat mencair.
- Musim tanam akan menjadi lebih panjang di beberapa area.
- Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat.
- Daerah tropis akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan.
Untuk kejadian yang terakhir, para ilmuwan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut justru akan mempercepat peningkatan atau penurunan efek pemanasan. Walaupun uap air merupakan Gas rumah kaca yang akan meningkatkan efek penyekatan pada atmosfir, tetapi uap air yang berlimpah akan membentuk awan yang lebih banyak sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa. Hal ini akan berakibat menurunkan proses pemanasan di bumi.
Di sisi lain, kelembaban yang tinggi akan berdampak antara lain sebagai berikut :
- Curah hujan akan meningkat. Kondisi saat ini, curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir. Hal ini dikarenakan untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan akan mengakibatkan kenaikan curah hujan sebesar 1 persen.
- Badai akan menjadi lebih sering terjadi.
- Air tanah akan lebih cepat menguap.
- Beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya.
- Angin akan bertiup lebih kencang dengan pola yang berbeda-beda.
- Terjadinya badai topan akan menjadi lebih besar.
- Beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi.
- Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrem.
Sumber : Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo,” Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global”, PenebarPlus, Jakarta, 2007 hlm. 23-24
Sabtu, 2008 Februari 23
Dampak Pemanasan Global Bagi Indonesia

Dampak yang ditimbulkan bagi negara kita jika tanpa ada upaya pencegahan maka kita akan kehilangan 2.000 pulau karena air laut akan naik pada ketinggian 90 cm. Tadinya kita memiliki 17.504 pulau tapi kini tinggal 17.480 pulau oleh sebab naiknya air laut dan usaha penambangan. Kehilangan asset 2.000 pulau akan luar biasa dampaknya yang berujung pada penyempitan wilayah kedaulatan RI.
Juga kenaikan air laut akan menurunkan pH air laut ; setiap kenaikan 14 - 43 cm maka pH air laut akan turun dari 8,2 menjadi 7,8 - akibat seriusnya akan menghambat pertumbuhan dan akhirnya akan mematikan biota dan terumbu karang. Ujung-ujungnya adalah dampak ekonomis dengan terjadinya pola perubahan habitat, migrasi dan populasi ikan serta hasil laut lainnya.
Lebih lanjut lagi ancaman serius bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya misalnya. Akan banyak wilayah pesisir perkotaan akan terendam dan akan terjadi pergeseran wilayah pantai. Karena setiap kenaikan 10 cm air laut akan menggenangi 10 meter persegi wilayah pesisir. Hal ini tentu akan berimplikasi pada akibat sosial ekonomi masyarakat.
Hal lain adalah soal ketahanan pangan. Saat ini saja misal di Pulau Jawa, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat. DAS Citarum dengan luas wilayah 6.080 km2 dan dengan panjang sungai 269 km nyatanya tidak memberikan kontribusi baik untuk mengairi areal persawahan. Maklum sepanjang DAS Citarum ada 11 juta jiwa bermukim dan 10.000 perusahaan yang memanfaatkan Citarum. Akibatnya terlihat produktifitas padi Tahun 2005 adalah 9.787.217 ton menjadi 9.418.572 ton pada Tahun 2006. Jadi ada penurunan sebesar 368.645 ton padi.
Hal serupa juga sama dengan DAS Brantas di Jawa Timur. Tahun 2006 produksi padi sebesar 9.346.947 ton menjadi 9.126.356 ton pada Tahun 2007. Ada penurunan sebesar 220.519 ton. Dan di Jawa Tengah juga sama dari 8.729.291 ton (2006) menjadi 8.378.854 ton (2007), penurunan sebesar 350.436 ton.
Ketahanan pangan memang menjadi salah satu titik perhatian utama ; sebab kelangsungan negara ini tentu bertumpu pada ketersediaan padi disamping alternatif bentuk pangan lain seperti umbi-umbian dan biji-bijian. Akan tetapi dengan menurunnya dukungan sungai-sungai sepanjang lumbung padi pulau Jawa ini, hal yang perlu dicermati adalah bagaimana menjaga serta memelihara seluruh DAS yang kita miliki sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih baik pada dekade sebelumnya.
Akibat Pemanasan Global juga akan memicu masalah kesehatan masyarakat. Karena suhu makin hangat, maka dengan sendirinya jentik nyamuk DB (Demam Berdarah) dan Malaria akan memiliki siklus hidup yang lebih pendek dan masa inkubasi penularan yang lebih singkat. Maka ledakan populasi nyamuk berbahaya ini akan bersifat lethal bagi masyarakat. Termasuk juga jenis penyakit lainnya seperti Diare, Leptospirosis, Asma, Kanker Kulit dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (COPD).
Lebih lanjut Kompas, 01.12.2007 menyarikan dampak Pemanasan Global bagi negara kita akan meliputi :
Perubahan Iklim
- Peningkatan temperatur Bumi
- Curah hujan yang lebih lebat
Pertanian
- Mengubah pola presipitasi, penguapan, air limpasan
dan kelembaban tanah
- Risiko terjadionya ledakan hama dan penyakit tanaman
- Terancamnya ketahanan pangan
Kelautan
- Naiknya permukaan air laut (bisa menenggelamkan
daerah pesisir yang produktif)
- Pemanasan air laut yang mempengaruhi keanekaragaman
hayati laut
- Peningkatan jumlah penyakit yang dibawa melalui air dan
vektor
Satwa
- Perubahan habitat. Hilangnya daerah pesisir berakibat pada
keanekaragaman hayati serta migrasi penduduk yang hidup
di kawasan ini
- Penurunan populasi amfibi secara global
Jadi jelaslah kini masalah Pemanasan Global memiliki dampak sangat serius bagi kelangsungan kehidupan dan penghidupan bangsa kita serta umat manusia umumnya di Bumi ini. Oleh sebab itu marilah kita mulai dengan diri kita sendiri untuk mengubah gaya hidup kita sendiri dengan cara sederhana seperti mematikan dua titik lampu listrik antara pukul 17.00 s/d 22.00, membuat sumur resapan, hemat energi dengan cara selektif menggunakan peralatan elektronik, mengurangi pemakaian mobil pribadi, mengurangi pemakaian kemasan plastik, memilah dan mengelola sampah rumah tangga, menanam pohon di halaman rumah dan banyak hal lain. Karena tanpa dimulai dari diri kita sendiri, masyarakat dan bangsa kita tidak akan berubah dan pada akhirnya semua manusia di Bumi tidak juga akan berubah. Mari kita mulai hari ini juga.
Sumber : Blog Handy.Hagemman.com yang dikutip dari Kompas, Gatra dan lainnya.
Senin, 2008 Februari 11
Menghemat Penggunaan Air

Kadang kita tidak menyadari kalau air dari kran mengalir kira-kira 9 liter per menit. Pemakaian air yang terlalu banyak dan boros akan mempercepat habisnya ketersediaan air tanah. Jadi, jangan membiasakan diri membiarkan kran air mengalir tanpa digunakan.
Ada beberapa cara untuk menghemat air antara lain sebagai berikut :
a. Mencuci piring di baskom yang telah diisi air, bukan di bawah air mengalir.
b. Cuci sayuran dan ayam/daging secara terpisah dalam tempat yang sudah terisi air. Bila mencuci langsung di bawah kran akan diperkukan air 10-15 kali lebih banyak dibandingkan mencuci di dalam satu wadah.
c. Berkumur atau menyikat gigi dengan menggukan gelas atau gayung. Bila menggunakan air mengalir untuk menyikat gigi, akan terjadi pemborosan berliter-liter air.
d. Sebaiknya gunakan lap dan seember air untuk mencuci mobil, jangan menggunakan air yang mengalir dari selang.
e. Jika mencuci baju dengan menggunakan mesin cuci maka cucilah dengan sejumlah kapasitas maksimal dari mesin cuci tersebut. Hal ini bertujuan agar bisa menghemat penggunaan air dan energi listrik.
f. Pergunakan shower pada saat mandi. Penggunaan gayung akan menyebabkan pemborosan air sampai tiga kali lipat.
g. Segera lakukan perbaikan pipa atau sambungan dari pipa ke pompa jika terjadi kebocoran. Untuk pencegahan, periksalah pipa-pipa secara teratur.
Sumber : Gatut Susanta dan hari Sutjahjo, “ Akankah Indonesia tenggelam akibat Pemanasan Global,” PenebarPlus, Jakarta, 2007
Jumat, 2008 Februari 01
Efek Pemanasan Global Terhadap Permukaan Laut

Pemanasan global juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland sehingga memperbanyak volume air laut. Tinggi muka laut diselurug dunia telah meningkat 10-25 cm selama abad 20. Apabila separuh es di Greenland dan Antartika meleleh maka terjadi kenaikan permukaan air laut di dunia rata-rata setinggi 6-7 meter. Tinggi kenaikan rata-rata permukaan laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.
Perubahan tinggi permukaan laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Hal ini dapat dilihat dari contoh sebagai berikut :
1. Apabila kenaikan permukaan laut 100 cm maka akan menenggelamkan 6 % daerah di Belanda, 17,5 % daerah di Bangladesh dan banyak pulau-pulau hilang. Demikian juga akan terjadinya erosi dari tebing dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat.
2. Apabila kenaikan air laut mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang pun akan meningkat di daratan.
3. Apabila kenaikan air laut sedikit saja, pengaruhnya akan cepat terlihat pada ekosistem pantai. Rawa-rawa pantai yang telah ada akan tenggelam dan akan terbentuk rawa-rawa baru.
Dengan kejadian di atas maka negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya. Namun, tidak demikian dengan negara-negara miskin yang tidak mempunyai cadangan dana. Negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai ke tempat yang lebih tinggi. Lalu. Siapa yang yang menangung beban ini ? Tentu masyarakat itu sendiri karena pemerintah tentu tidak mungkin punya dana untuk memindahkan kota Jakarta, misalnya.
Sumber : Gatut Susanto dan Hari Sutjahjo, “Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global”, PenebarPlus, Jakarta, 2007
Dampak Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Bagi Ketahanan Pangan Indonesia

Pergeseran musim akibat perubahan iklim dan cuaca yang berubah-ubah telah mengakibatkan kekeringan di beberapa daerah di Indonesia sehingga menambah rumit masalah swadaya pangan terutama beras. Dampak yang lebih besar yaitu meningkatnya keluarga miskin.
Dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan antara lain :
1. Menurunkan produktifitas, khususnya di wilayah pantai akibat naiknya suhu global.
2. Meningkatnya frekuensi kejadian iklim ekstrim sehingga kehilangan produksi akibat bencana kering dan banjir meningkat.
3. Kerawanan pangan meningkat di wilayah rawan bencana kering dan banjir.
4. Masalah penyakit tanaman berpotensi untuk berkembang.
Sumber : Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo, “ Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global?”, PenebarPlus, Jakarta. 2007
